Minggu, 09 Maret 2014

IZINKAN AKU MENCIUMMU, IBU

sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lanta, mengepelnya setiap pagi dan sore. setiap hari, aku? di paksa? membantunya memasak din pagi buta  sebelum ayah dan kakak-kakakku bangun. bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikan hingga setiap kali mengerjakan aku selalu bersungut-sungut. Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua.karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku. saat pertama kali aku masuk sekolah taman kanak-kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. dengan sabar pula ia menunggu. sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk diseberang sana. aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaan di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik atau hujan. juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. kini, setelah aku besar, aku palah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, berpergian. tak pernah aku menungguinyzketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. saat aku menjadi dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. di usiaku yang menanjak remaja, aki sering merasa malu berjalan bersamanya. pakaian dan dandanannnya yang ku anggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinnya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak  menyangka aku sedang berjalan bersamanya. padahal menurut cerita orang, sejak kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. ia sisihkan semua untuk membelikan pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. padahal juga aku tahu, ia yang penuh dengan kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. ia mengangkat tubuhku ketika aku jatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis. selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku perguruan tinggi. aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. aku yang pintar,cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kulaih dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya. usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang ku anggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. meski ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa si setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang ku raih. tanmapu ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang. pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. ia tunjukan bagaimana meneguhkan hati, memantapka langkah menuju dunia baru itu. sesaat ku pandang senyumnya begitu menyejukan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. usai akad nika, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku lahir ke dunia ini. kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. aku sangat ingin menjadi istri yang sholeh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada ibu. sungguh, kini aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak berarti di bandingkan kehadiranku untukmu. aku akan datang dan menciummu IBU, meski tak sehangat cinta dan kasih sayang mu kepadaku.